Bacaan Injil Hari Minggu 1 Februari 2026 Bacaan Injil: Matius 5:1-12a
Bacaan Injil Hari Minggu
1 Februari 2026
Bacaan Injil: Matius 5:1-12a
Bacaan Pertama, Zef
2:3;3:12-13
Carilah Tuhan, hai semua
orang yang rendah hati di negeri, yang melakukan hukum-Nya; carilah keadilan,
carilah kerendahan hati; mungkin kamu akan terlindung pada hari kemurkaan
Tuhan.
Dan Allah berfirman, “Di
antaramu akan Kubiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah, dan mereka
akan mencari perlindungan pada nama Tuhan, yakni sisa Israel itu. Mereka tidak
akan melakukan kelaliman atau berbicara bohong; dalam mulut mereka tidak akan
terdapat lidah penipu; ya, mereka akan seperti domba yang makan rumput dan
berbaring dengan tidak ada yang mengganggunya.”
Bacaan Kedua, 1Kor
1:26-31
Saudara-saudara, coba
ingatlah bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil. Menurut ukuran manusia
tidak banyak di antara kamu yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh,
tidak banyak orang yang terpandang. Namun apa yang bodoh bagi dunia, dipilih
Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi
dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak
terpandang dan yang hina bagi dunia, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih
Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun
yang memegahkan diri di hadapan Allah. Tetapi Allah telah membuat kamu berada
dalam Kristus Yesus, yang oleh Dia Kristus telah menjadi hikmat bagi kita.
Dialah yang membenarkan, menguduskan dan menebus kita. Sebagaimana tertulis
dalam Kitab Suci, ”Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam
Tuhan.””
Bacaan Injil, Mat 5:1-12a
Sekali peristiwa, ketika
melihat orang banyak itu, naiklah Yesus ke atas bukit. Setelah Ia duduk,
datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesus pun mulai berbicara dan
mengajar mereka, kata-Nya: ”Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah,
karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang
berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut,
karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan
kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah
hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci
hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa
damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang
dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu
difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, sebab besarlah
ganjaranmu di surga.
Renungan Padat
Porque Yo Estoy Aqui
Minggu ini, kita
mengikuti kisah Yesus mulai mengajar orang banyak dan murid-murid yang datang
kepada-Nya.
Siapa orang banyak yang
datang itu? Kita tahu dari perikop sebelumnya di Matius 4:23-25. Berita tentang
Yesus dan karya-Nya tersebar di seluruh Siria. Orang banyak datang, bahkan dari
Galilea, Dekapolis, Yerusalem dan Yudea, daerah sebrang sungai Yordan.
Mereka meninggalkan
rumah, pekerjaan, dan rutinitas hidupnya, lalu berbondong-bondong mencari
Yesus.
Injil tidak mencatat
siapa nama mereka. Yang disebut justru keadaan mereka: orang sakit, orang
lumpuh, orang yang hidupnya terluka dan tidak berdaya. Mereka datang bukan
dengan iman yang sudah matang, tetapi dengan harapan sederhana: ingin sembuh,
ingin hidupnya sedikit lebih baik, ingin menemukan jalan keluar.
Mungkin mereka belum
sungguh mengenal Yesus. Mungkin mereka hanya mendengar cerita tentang Dia.
Namun jelas ada sesuatu dalam diri Yesus yang menarik mereka. Kalau tidak,
mereka tidak akan rela berjalan jauh. Ada harapan, ada kegembiraan, ada kehidupan
yang memanggil dari pribadi-Nya.
Ketika Yesus melihat
orang banyak itu, Injil Matius tidak menceritakan perasaan Yesus. Tidak
dikatakan Ia tergerak oleh belas kasihan atau terharu seperti dalam Injil
Lukas. Matius hanya menerangkan: Yesus melihat orang banyak itu. Seperti
Allah yang melihat manusia apa adanya—dengan segala keinginan, permintaan, dan
harapan yang dibawa ke hadapan-Nya.
Lalu Yesus naik ke bukit
dan duduk. Ia hadir sebagai Guru. Sebagai kebijaksanaan Allah yang berbicara
dengan wibawa dan otoritas yang mulia.
Ketika Yesus mulai
berbicara, Ia tidak mengutip siapa pun. Ia tidak berkata, “Beginilah firman
Tuhan.” Sabda itu lahir dari diri-Nya sendiri. Suara-Nya menjadi sumber ajaran
itu.
Dan kata pertama yang
keluar dari mulut-Nya adalah: “Berbahagialah.”
Bukan, “Berbahagialah
kalau kamu sembuh.”
Bukan, “Berbahagialah kalau hidupmu aman dan berkecukupan.”
Bukan, “Berbahagialah kalau semua masalahmu selesai.”
Tetapi: berbahagialah.
Seakan Yesus berkata:
berbahagialah karena engkau hidup. Karena engkau hadir. Karena engkau dilihat.
Karena Aku ada di sini.
Yesus tidak menunggu
hidup manusia menjadi sempurna lebih dahulu. Ia tidak menunggu semua luka
sembuh dan semua masalah beres. Ia justru menyatakan bahwa kebahagiaan bisa
dimulai sekarang—di tengah hidup yang masih rapuh dan belum selesai.
Sabda Bahagia bukanlah
daftar syarat untuk mencapai kebahagiaan. Ia adalah pengumuman bahwa Allah
dekat dengan manusia. Bahwa hidup kita, apa adanya, berada dalam jangkauan
kasih-Nya.
Berbahagialah, porque yo
estoy aquí.
Berbahagialah, karena Aku ada di sini.
Mungkin kebahagiaan
sejati bukan selalu soal hidup yang berubah drastis, tetapi tentang kesadaran
bahwa kita tidak lagi sendirian. Allah duduk di hadapan kita, melihat kita, dan
berbicara kepada kita dengan kasih.
Ia melihat kita dan. kita
bisa datang kepada-Nya. Kita dapat memandang dan mendengar suara-Nya. Itu sudah
cukup menjadi kebahagiaan kita di tengah tantangan apapun yg kita hadapi dalam hidup.
—
Jadi, kamu gimana?
RA
https://www.thekatolik.com/2026/01/bacaan-injil-hari-minggu-1-februari-2026.html
https://www.kaj.or.id/read/2026/01/31/19999/renungan-minggu-biasa-iv-1-februari-2026.php
Comments
Post a Comment